
Ketika Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi banyak negara.
Konflik geopolitik yang berkepanjangan, perlambatan ekonomi global, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, hingga ketidakpastian investasi menjadi persoalan yang dihadapi hampir seluruh kawasan dunia.
Di tengah situasi tersebut, banyak pemerintahan mengalami penurunan tingkat kepercayaan publik. Masyarakat menjadi lebih kritis, lebih sensitif terhadap berbagai persoalan ekonomi, dan lebih mudah kehilangan optimisme.
Namun Indonesia menunjukkan dinamika yang berbeda.
Survei Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 11–17 Mei 2026 mencatat bahwa 77,8 persen responden menilai keamanan nasional tetap terjaga. Sebanyak 80 persen menilai kerukunan antarumat beragama berada dalam kondisi baik, sementara 77,4 persen menyatakan persatuan bangsa masih kuat.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan eksternal meningkat, mayoritas masyarakat masih percaya pada stabilitas yang dimiliki Indonesia.
Keamanan dan Persatuan Menjadi Fondasi Kepercayaan
Bagi masyarakat, keamanan bukan sekadar isu yang dibahas di ruang publik atau media massa.
Keamanan adalah sesuatu yang dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika masyarakat dapat bekerja dengan tenang, menjalankan usaha tanpa gangguan, beribadah dengan nyaman, dan berinteraksi tanpa rasa khawatir, maka rasa percaya terhadap kondisi negara akan tumbuh secara alami.
Hal yang sama berlaku untuk persatuan bangsa.
Di negara dengan tingkat keberagaman seperti Indonesia, menjaga persatuan bukanlah tugas yang sederhana. Perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan politik berpotensi menjadi sumber gesekan apabila tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap persatuan bangsa menunjukkan bahwa mayoritas warga masih melihat Indonesia sebagai negara yang mampu menjaga harmoni sosial di tengah berbagai perbedaan.
Stabilitas yang Terjaga Bukan Sesuatu yang Datang dengan Sendirinya
Sering kali masyarakat baru menyadari pentingnya stabilitas ketika stabilitas itu terganggu.
Padahal menjaga keamanan dan ketertiban sosial membutuhkan kerja yang terus-menerus dari berbagai institusi negara.
Mulai dari penegakan hukum, pengelolaan isu-isu sosial, penguatan dialog antar kelompok masyarakat, hingga kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan dalam menghadapi berbagai dinamika nasional.
Dalam konteks ini, tingginya tingkat kepercayaan terhadap keamanan dan persatuan dapat dipandang sebagai refleksi bahwa masyarakat masih melihat negara mampu menjalankan fungsi-fungsi dasarnya secara efektif.
Kepercayaan tersebut menjadi modal penting bagi keberlanjutan pembangunan nasional.
Masyarakat Tetap Memberikan Catatan terhadap Ekonomi
Meski demikian, hasil survei juga menunjukkan bahwa masyarakat tetap memiliki perhatian besar terhadap kondisi ekonomi.
Kepuasan terhadap ekonomi tercatat sebesar 59,2 persen, lebih rendah dibandingkan indikator keamanan dan persatuan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak menilai seluruh aspek pemerintahan secara seragam.
Publik mengakui adanya tantangan ekonomi yang masih perlu diselesaikan, mulai dari tekanan harga, daya beli, hingga ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Namun pada saat yang sama, masyarakat tetap memisahkan persoalan ekonomi dengan kondisi keamanan dan persatuan nasional yang dinilai masih terjaga.
Fenomena ini memperlihatkan adanya kedewasaan publik dalam memberikan penilaian terhadap berbagai aspek kehidupan berbangsa.
Modal Sosial yang Berharga bagi Pemerintah
Bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, hasil survei ini dapat dibaca sebagai modal sosial yang sangat penting.
Kepercayaan publik terhadap keamanan dan persatuan memberikan fondasi yang kuat bagi pelaksanaan berbagai program strategis nasional.
Agenda besar seperti swasembada pangan, hilirisasi industri, transformasi ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia membutuhkan stabilitas nasional yang kuat.
Tanpa stabilitas, berbagai program pembangunan akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
Karena itu, tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap fondasi sosial bangsa menjadi salah satu aset penting yang perlu dijaga dan dimanfaatkan secara optimal.
Indonesia Memiliki Ketahanan yang Tidak Dimiliki Semua Negara
Banyak negara saat ini menghadapi tantangan berupa meningkatnya polarisasi sosial, ketidakpercayaan terhadap institusi publik, dan ketegangan politik yang menghambat pembangunan.
Indonesia tentu masih memiliki berbagai pekerjaan rumah.
Namun kemampuan menjaga tingkat kepercayaan publik terhadap keamanan, kerukunan, dan persatuan di atas 77 persen menunjukkan adanya ketahanan sosial yang cukup kuat.
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan mempertahankan kohesi sosial menjadi keunggulan strategis yang dapat membantu Indonesia menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Kesimpulan
Survei Poltracking Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat masih percaya pada keamanan nasional, kerukunan antarumat beragama, dan persatuan bangsa meskipun tekanan ekonomi global masih berlangsung. Temuan ini menjadi indikator bahwa fondasi sosial Indonesia tetap kuat di tengah situasi internasional yang penuh ketidakpastian.
Kepercayaan publik tersebut merupakan modal berharga bagi pemerintah untuk melanjutkan berbagai agenda pembangunan nasional. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa stabilitas yang telah terjaga mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Pada akhirnya, kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada kemampuannya menjaga persatuan, tetapi juga pada kemampuannya mengubah persatuan tersebut menjadi energi pembangunan yang membawa kemajuan bagi seluruh rakyat.
.png)











