
Forum bertajuk “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II” yang digelar di Hans Kopi Veteran, Semarang, menjadi ruang bertemunya mahasiswa, akademisi, aktivis, dan budayawan untuk membahas berbagai isu strategis yang tengah dihadapi Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan RMOL Jateng tersebut menghadirkan Wakil Ketua Umum Luar Negeri LMND Evantio Yudhistira, Presiden BEM Polines Kevin Kurnia Priambodo, akademisi dan pengamat politik Universitas Diponegoro Nur Hidayat Sardini, serta budayawan Beno Siang Pamungkas.
Diskusi berlangsung dinamis dengan fokus pada makna reformasi di era saat ini, peran generasi muda dalam demokrasi, serta pentingnya mengawal berbagai agenda pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah.
Reformasi Harus Menjadi Energi Perbaikan Bangsa
Dalam pemaparannya, Evantio Yudhistira menyampaikan bahwa reformasi seharusnya dimaknai sebagai proses berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan era reformasi sebelumnya. Persoalan ketahanan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, transformasi teknologi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.
“Diskusi seperti ini memang dibutuhkan oleh bangsa kita saat ini. Diskusi yang ilmiah, penuh dialektika, menjadi kebutuhan bersama. Apa yang kita lakukan untuk bangsa saat ini membutuhkan persatuan nasional, dan salah satu bentuknya adalah ruang diskusi seperti ini,” ujar Evantio.
Ia menilai bahwa ruang dialog yang terbuka dapat membantu masyarakat memahami berbagai persoalan nasional secara lebih utuh dan tidak terjebak dalam polarisasi yang kontraproduktif.
Menilai Kebijakan Secara Objektif
Dalam forum tersebut, Evantio juga mengajak masyarakat untuk melihat perkembangan bangsa secara objektif. Menurutnya, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari demokrasi, tetapi harus dilakukan berdasarkan fakta dan analisis yang menyeluruh.
“Kita harus melihat situasi secara objektif, jangan sampai termakan algoritma atau emosi yang terus menampilkan keburukan. Kita harus melihat secara menyeluruh apa yang dilakukan negara saat ini,” katanya.
Ia menilai bahwa Indonesia saat ini tengah menjalankan berbagai agenda strategis yang bertujuan memperkuat kemandirian nasional, mulai dari pembangunan ekonomi berbasis hilirisasi, penguatan ketahanan pangan, pengembangan koperasi desa, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu mengawal pelaksanaan program-program tersebut agar tujuan yang telah dirancang dapat tercapai secara optimal.
Mahasiswa Didorong Menjadi Mitra Kritis Pembangunan
Evantio juga menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam proses pembangunan nasional. Selain menjalankan fungsi kontrol sosial, mahasiswa juga diharapkan mampu memberikan masukan dan rekomendasi yang dapat membantu penyempurnaan kebijakan publik.
“Momentum ini harus menjadi titik balik agar sumber daya bangsa bisa dinikmati untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam forum-forum diskusi menjadi penting karena dapat menghasilkan pemikiran yang konstruktif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dalam membangun kesadaran publik dibandingkan sekadar memperdebatkan persoalan tanpa menawarkan solusi.
Akademisi Soroti Pentingnya Tata Kelola Program
Sementara itu, akademisi Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini, menyoroti pentingnya memperkuat tata kelola berbagai program pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah.
Dalam pembahasannya, ia menyinggung program Koperasi Merah Putih yang saat ini menjadi salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Nur Hidayat, program-program seperti ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila didukung oleh sistem pelaksanaan yang jelas dan akuntabel.
“Bukan soal mendukung atau menolak, tetapi bagaimana tata kelola program itu diperbaiki. Harus jelas siapa sasaran penerima manfaat, bagaimana rekrutmen operatornya, serta bagaimana distribusinya agar tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menilai bahwa kritik yang disampaikan secara konstruktif justru akan membantu pemerintah meningkatkan kualitas implementasi kebijakan.
Ruang Dialog Jadi Sarana Membangun Persatuan
Selain membahas kebijakan publik, forum juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan nasional di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berkembang.
Para peserta sepakat bahwa Indonesia membutuhkan stabilitas dan kolaborasi untuk menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari perlambatan ekonomi dunia hingga persaingan antarnegara yang semakin ketat.
Dalam konteks tersebut, forum diskusi dianggap sebagai sarana yang mampu mempertemukan berbagai pandangan dan mengurangi potensi polarisasi di masyarakat.
Budaya dialog dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat demokrasi sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.
Membangun Indonesia Melalui Gagasan
Forum “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II” memperlihatkan bahwa semangat perubahan tidak selalu harus diwujudkan melalui aksi konfrontatif. Di Semarang, mahasiswa memilih membangun ruang intelektual untuk mendiskusikan berbagai persoalan bangsa dan mencari solusi yang dapat diterapkan.
Di tengah upaya pemerintah menjalankan berbagai program prioritas nasional, keterlibatan masyarakat melalui kritik yang objektif dan gagasan yang konstruktif dinilai menjadi bagian penting dari proses pembangunan.
Melalui semangat dialog, persatuan, dan kolaborasi, forum tersebut mengirimkan pesan bahwa reformasi yang relevan saat ini adalah reformasi yang mampu memperkuat kapasitas bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mempercepat terwujudnya Indonesia yang lebih maju.
.png)









