Ruang Fikir
5 min read1,100

Nalar Rapuh Gerakan "Cancel Didit": Ketika Sentimen Menang Simbolik, tetapi Kalah Secara Substansi

JAKARTA – Polemik yang mengiringi keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) dalam penyelenggaraan ARTJOG 2026 menjadi salah satu isu paling ramai diperbincangkan di dunia seni Indonesia. Logo yayasan dihapus dari materi publikasi, pidato pembukaan Didit Hediprasetyo dibatalkan, dan kampanye #TolakDidit bergulir luas di media sosial.

O

OP Admin

Published in Ruang Fikir

Loading...
Nalar Rapuh Gerakan "Cancel Didit": Ketika Sentimen Menang Simbolik, tetapi Kalah Secara Substansi

Bagi sebagian kalangan, langkah tersebut dipandang sebagai bentuk penjagaan terhadap independensi ruang seni dari pengaruh kekuasaan. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah penolakan terhadap DHF dilakukan dengan standar yang sama seperti terhadap sponsor-sponsor lain yang selama ini juga menjadi bagian dari ekosistem pendanaan ARTJOG?

Pertanyaan inilah yang kemudian memunculkan diskusi lebih luas mengenai hubungan antara seni, filantropi, politik, dan konsistensi prinsip.

Sponsor Selalu Menjadi Bagian dari ARTJOG

Sebagai salah satu pameran seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia, ARTJOG selama bertahun-tahun diselenggarakan dengan dukungan berbagai sponsor.

Dalam berbagai edisinya, dukungan datang dari perusahaan milik negara, lembaga keuangan nasional, yayasan korporasi, hingga perusahaan swasta besar. Kehadiran sponsor bukanlah sesuatu yang baru, melainkan bagian dari model pembiayaan yang umum digunakan dalam penyelenggaraan festival seni.

Karena itu, ketika DHF menjadi sasaran penolakan, sebagian pihak mulai mempertanyakan konsistensi sikap tersebut.

Mengapa dukungan dari sponsor tertentu diterima sebagai sesuatu yang wajar, sementara dukungan dari yayasan lain langsung dipandang sebagai ancaman terhadap independensi seni?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan karena selama ini belum pernah muncul penolakan dengan skala yang sama terhadap sponsor-sponsor lain yang juga memiliki hubungan dengan negara maupun kepentingan bisnis.

Tuduhan Artwashing Menjadi Perdebatan

Istilah artwashing menjadi salah satu tuduhan yang paling sering diarahkan kepada DHF.

Konsep tersebut merujuk pada penggunaan kegiatan seni untuk memperbaiki citra individu, perusahaan, atau kelompok yang memiliki kepentingan politik maupun ekonomi.

Namun apakah tuduhan tersebut dapat dibuktikan?

Dalam penyelenggaraan ARTJOG 2026, sejumlah karya yang berisi kritik terhadap pemerintah tetap dipamerkan. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah instalasi karya Dolorosa Sinaga yang mengangkat kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis, proyek Food Estate, hingga kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo.

Karya tersebut tetap dipasang tanpa diketahui mengalami sensor ataupun perubahan isi.

Fakta tersebut kemudian dijadikan dasar oleh sebagian pihak untuk mempertanyakan apakah benar telah terjadi intervensi terhadap ruang artistik.

Sebab apabila sponsor memiliki pengaruh terhadap kurasi, maka karya-karya yang paling kritis justru diperkirakan menjadi objek pertama yang dibatasi.

Dukungan Disebut Tidak Masuk ke Ranah Kuratorial

Didit Hediprasetyo Foundation menjelaskan bahwa bentuk dukungan yang diberikan kepada ARTJOG berupa pembelian tiket yang kemudian didistribusikan kepada komunitas dan jaringan yayasan.

Yayasan juga menyatakan tidak memiliki peran dalam penyusunan kurasi, pemilihan seniman, maupun pengambilan keputusan artistik. Tidak ada kepemilikan terhadap penyelenggara ataupun kewenangan menentukan arah pameran.

Karena itu muncul ungkapan yang kemudian menjadi salah satu inti argumentasi dalam polemik tersebut.

"Membeli tiket, bukan membeli suara."

Kalimat tersebut menegaskan bahwa dukungan finansial belum tentu identik dengan penguasaan terhadap ruang seni. Dalam praktik filantropi budaya di berbagai negara, bentuk patronase seperti ini merupakan model yang lazim selama sponsor tidak mencampuri independensi kuratorial.

Didit dan Beban Identitas Politik

Polemik ini juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Didit Hediprasetyo sendiri.

Sebagai putra Presiden Prabowo Subianto, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan publik hampir selalu dibaca melalui perspektif politik. Padahal jauh sebelum ayahnya menjabat sebagai presiden, Didit telah dikenal sebagai desainer busana yang berkiprah di tingkat internasional, tampil dalam kalender Paris Fashion Week, serta dipercaya merancang busana resmi kontingen Indonesia pada Olimpiade Paris 2024.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan lain yang tidak kalah penting.

Apakah penilaian publik diarahkan kepada tindakan yang dilakukan Didit selama mendukung ARTJOG, atau lebih banyak dipengaruhi oleh identitas keluarganya?

Pertanyaan ini menjadi bagian dari perdebatan yang hingga kini belum menemukan titik temu.

Tantangan Pendanaan Seni Indonesia

Di luar kontroversi mengenai DHF, polemik ini juga memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar, yaitu model pendanaan seni di Indonesia.

Meskipun telah memiliki kerangka hukum melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sebagian besar kegiatan seni masih mengandalkan sponsor swasta dan filantropi karena dukungan pembiayaan publik dinilai belum memadai.

Situasi tersebut menghadirkan dilema.

Apabila seluruh bentuk dukungan swasta dipandang bermasalah karena dianggap memiliki kepentingan tertentu, sementara negara belum mampu menjadi penyandang dana utama, bagaimana ruang seni dapat menjaga keberlanjutannya?

Pertanyaan ini menjadi relevan tidak hanya bagi ARTJOG, tetapi juga bagi banyak festival seni lain di Indonesia.

Memisahkan Sponsor dan Insiden Keamanan

Penyelenggaraan ARTJOG 2026 juga diwarnai insiden pembubaran aksi teatrikal pada malam pembukaan yang menuai kritik dari berbagai kalangan.

Penyelenggara telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap kejadian tersebut.

Namun hingga kini belum terdapat informasi yang menunjukkan bahwa Didit Hediprasetyo Foundation memiliki kewenangan atau keterlibatan langsung dalam pengambilan keputusan terkait pengamanan acara.

Karena itu, sejumlah pengamat menilai polemik mengenai sponsor sebaiknya dipisahkan dari evaluasi terhadap tata kelola keamanan penyelenggaraan agar masing-masing persoalan dapat dinilai secara proporsional.

Ujian bagi Konsistensi Dunia Seni

Kontroversi ARTJOG 2026 pada akhirnya berkembang menjadi lebih dari sekadar perdebatan mengenai satu yayasan.

Kasus ini menjadi cermin bagi dunia seni Indonesia dalam menguji konsistensi prinsip mengenai independensi, kebebasan berekspresi, dan hubungan dengan sumber pendanaan.

Jika kedekatan dengan kekuasaan dipandang sebagai persoalan mendasar, maka ukuran tersebut semestinya berlaku bagi seluruh pihak tanpa memandang nama, latar belakang, maupun posisi politiknya.

Sebaliknya, apabila standar yang digunakan berubah bergantung pada siapa sponsornya, maka perdebatan ini bukan lagi hanya tentang menjaga independensi seni, melainkan juga tentang bagaimana konsistensi prinsip diuji di ruang publik.

Polemik mengenai Didit Hediprasetyo Foundation mungkin belum akan berakhir dalam waktu dekat. Namun satu hal yang telah jelas, perdebatan ini telah membuka diskusi yang lebih luas mengenai masa depan pendanaan seni, batas hubungan antara filantropi dan kekuasaan, serta bagaimana ruang budaya dapat tetap independen tanpa kehilangan sumber daya untuk terus hidup.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles