Ruang Fikir
2 min read759

PMI Manufaktur RI Kembali Tertekan, Penurunan Permintaan Dorong Indeks ke Level 46,9

JAKARTA – Kinerja sektor manufaktur Indonesia kembali melemah pada Juni 2026. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 dari 50,0 pada Mei 2026. Penurunan tersebut menandakan aktivitas manufaktur nasional kembali memasuki fase kontraksi setelah sebelumnya berada di level netral.

O

OP Admin

Published in Ruang Fikir

Loading...
PMI Manufaktur RI Kembali Tertekan, Penurunan Permintaan Dorong Indeks ke Level 46,9

Hasil survei menunjukkan perlambatan terutama dipicu oleh melemahnya permintaan pasar, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain menghadapi penurunan pesanan, perusahaan manufaktur juga dibebani kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Perindustrian terus mendorong kebijakan efisiensi, termasuk melalui implementasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi sektor industri.

PMI Manufaktur Indonesia Kembali Berada di Bawah Level 50

Survei S&P Global mencatat PMI manufaktur Indonesia berada di angka 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut turun dari 50,0 pada bulan sebelumnya dan menempatkan sektor manufaktur kembali ke zona kontraksi.

Penurunan PMI mencerminkan berkurangnya aktivitas produksi, menurunnya pesanan baru, serta melemahnya aktivitas bisnis di sektor manufaktur selama periode survei.

Melemahnya Permintaan Domestik dan Ekspor Menekan Industri

Laporan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk manufaktur mengalami perlambatan dari dua sisi sekaligus.

Pasar domestik mencatat penurunan pesanan baru, sementara permintaan dari pasar ekspor juga melemah akibat kondisi ekonomi global yang masih belum sepenuhnya pulih. Situasi ini membuat banyak perusahaan memilih menyesuaikan volume produksi agar sejalan dengan kondisi pasar.

Tekanan Biaya Produksi Masih Berlanjut

Selain lemahnya permintaan, pelaku industri juga menghadapi peningkatan biaya operasional.

Naiknya harga bahan baku di pasar internasional, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, menyebabkan biaya input industri meningkat. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan dalam menjaga efisiensi dan profitabilitas.

Kemenperin Berharap HGBT Dapat Mendorong Pemulihan Manufaktur

Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa pemerintah terus mengupayakan berbagai langkah untuk memperkuat sektor manufaktur nasional.

Salah satu kebijakan yang menjadi fokus adalah optimalisasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri. Dengan harga gas yang lebih kompetitif, pemerintah berharap biaya produksi dapat ditekan sehingga pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki daya saing.

Di tengah perlambatan yang masih terjadi, pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim investasi, memperkuat koordinasi lintas kementerian, dan menciptakan kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri manufaktur secara berkelanjutan.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles